B AFAPOKER



 Domino168 Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online, Sakong Online  ABGQQ Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya

Cerita Sex Pesta Sex Bersama Anakku dan Teman-Temannya

agen togel online agen situs domino99 agen live casin
“Cindy…!!”
Melihat kondisi anak gadis saya yang ternyata baik-baik saja membuat hati saya lebih tenang.
“Ma… Cindy kangen…”, dia lalu memeluk saya dengan erat.
Air mata kami kemudian menetes, rasa haru pun menyelumuti kami. Sesaat saya dan Cindy berbagi cerita tanpa menghiraukan teman-temannya yang lain. Walaupun ia tetap terjerumus di lembah gelap, tapi saya masih sedikit tenang, setidaknya bukan tempat bang Sobirin yang lebih bobrok. Cindy memilih di sini, saya yakin dia punya alasan tertentu, mungkin karena orang-orang di sini masih muda, jauh beda dengan 1001 malam yang dari berbagai usia.
Nonton Film Klik Disini
Cindy lebih akrab dengan mereka yang umurnya tidak begitu selisih jauh, apalagi di sini bebas dari narkotika, walaupun sebelumnya Asep dan Agus pernah berkeja menjadi kurir narkoba. Lain dengan 1001 Malam yang marak sebagai tempat transaksi narkoba.
“Yeni…”, saya memperkenalkan diri kepada orang-orang di sini.
Sebentar saja saya sudah akrab dengan mereka. Bos di sini adalah Iman, dia lah yang mengucurkan uang untuk membebaskan saya dari jeratan bang Sobirin, kemudian ada Rahman, Asep dan Agus yang tadinya menjemput saya. Selain itu ada teman-teman Iman yang lain; Roni, Ardi, Haryono, Maman, Sigit, dan Rudi. Serta tiga gadis pemijit selain Cindy; Eva, Lina dan Putri.
Mereka semua baik sekali dengan Cindy, sampai-sampai nanti malam mau mengadakan pesta untuk merayakan kebebasan saya. Sebagai tanda terima kasih, saya pun berjanji akan memasak makanan untuk pesta nanti malam.
“Bagus, tante tinggal di sini saja, hitung-hitung bantu siapkan makanan untuk kita..”, ajak Iman agar saya bergabung dengan usahanya.
“Kasihan juga si Cindy tidur sendirian…”, lanjut Iman.
Saya pun mengiyakan karena saya sendiri juga tak tahu harus tinggal di mana lagi. Di gedung ini hanya Cindy dan Rahman saja yang tinggal, sedangkan yang lain kalau sudah malam pulang ke rumah masing-masing, kadang-kadang saja ada yang menginap di sini.
Saya pun mulai keluar berbelanja bahan untuk masakan, Iman meminta Rahman menemani saya, namun sepertinya dia kecapekan karena tadi telah menjemput saya, mau tidak mau Roni lah yang ditunjuk kemudian. Wajahnya sedikit aneh, tampak seperti seorang pecandu seks yang berlebihan, menatap saya saja seperti menatap mangsa.
Tapi tidak apalah, sudah tidak heran kok diperlakukan seperti ini. Tubuh saya yang putih mulus memang sering mengundang nafsu para lelaki hidung belang, apalagi saya adalah keturunan china, walaupun umur saya sudah 33 tahun, namun saya tetap menjaga bentuk tubuh saya.
Dalam perjalanan saya banyak berbincang dengan Roni, saya duduk di sebelahnya yang sedang menyupir. Sesekali ia meraba paha saya yang kebetulan saya menggunakan rok, sehingga gampang sekali disibak. Ternyata Roni adalah sahabat Iman sedari kecil, mereka sudah seperti saudara dan saling membantu. Orang tua Roni pun bekerja pada orang tua Iman.
Karena rabaan lembutnya di paha saya membuat saya sedikit terangsang, tidak ingin mengecewakannya, saya pun membalas meraba pahanya. Roni tersenyum girang, saya buka resleting celananya lalu saya keluarkan penisnya yang sudah ngaceng. Selama perjalanan saya mengocok penisnya dengan tangan saya, dari sejak pergi sampai pulang hingga ke tempat asal kami.
“Tar malam boleh dong temani Roni?”, tanya Roni sebelum saya turun dari mobil, saya hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
Tidak terasa waktu cepat berlalu, mungkin karena saya terlalu berfokus pada masakan saya, jam sudah menunjukkan pukul 10, hanya Cindy yang membantu saya di dapur, sedangkan yang lain ada di ruang kumpul untuk berkaraoke ria.
“Yuk, kita bawa ke sana…”, saya mengajak Cindy anak saya untuk membantu saya membawa masakan.
Cukup kaget ketika saya membuka pintu ruangan kumpul. Ternyata semua sudah bugil dan menikmati bir sambil berkaraoke. Hmm, anak muda jaman sekarang terlalu bebas, pikirku. Namun lebih kagetnya lagi saya lihat Cindy membuka pakaiannya setelah meletakkan masakan di atas meja. Sebenarnya saya tidak awam dengan hal seperti ini, namun tidak tega saja melihat anak saya sendiri yang berbuat demikian. Saya pun meletakkan masakan yang saya pegang di atas meja.
“Ayo gabung…”, saya ditarik Roni yang lalu memaksa saya melepaskan pakaian saya.
Tanpa perlawanan, saya mengikuti acara mereka, menari bugil. Para lelaki berkaraoke dan dikaraoke, Cindy melayani bos Iman, saya melihatnya dengab jelas, Cindy menyepong penis Iman dengan nafsu. Sedangkan Eva melayani Rahman dan Ardi, Putri melayani dua sekawan alias Asep dan Agus, sedangkan Lina menyepong punya Haryono dan Maman. Yang tidak dapat jatah masih asyik menikmati bir sambil merokok. Saya kemudian ditarik Roni,
“Sepongin dong tante…”, pintanya.
“Awas, hyper tuh…”, ejek Rudi dan Sigit yang sedang minun-minum.
Saya mainkan penisnya yang mengeras itu, penuh nafsu Roni mencengkram erat rambut saya agar saya terus menyepong penisnya. Sebentar-bentar ia juga menampar pipi saya, sungguh benar Roni adalah seorang yang hypersex. Sesekali ia juga menjulurkan tangannya ke bawah untuk meremas susu saya.
“Tante masih cantik…”, ia coba merayu saya agar saya semakin terangsang. Saya pandangi yang lain juga masih asyik menyepong, seperti lomba saja, lima perempuan sedang melayani beberapa pria secara bersama-sama.
“Tante… Boleh gak Roni request?…”, tanya Roni.
Saya pun kemudian menghentikan sepongan saya untuk mendengar apa permintaannya.
“Pengen model bondage…”, lanjutnya sambil tersenyum.
Saya tidak menjawabnya, melainkan meneruskan sepongan saya. Penisnya terasa hangat dimulut saya, saya kulum dan saya jilat. Roni hanya diam, ia tidak kembali menanyakan jawaban saya, sungguh pria yang hypersex.
Saya lihat Rudi dan Sigit tidak lagi minum, mereka sudah bergabung dengan yang lainnya. Hanya Iman yang berdua dengan Cindy, tidak ada yang berani rebutan dengannya karena dialah bos di sini. Cindy tidak lagi menyepong, tetapi telah berjongkok di atasnya, percintaan gaya WOT, Cindy terlihat sangat menikmatinya dengan terus menggoyangkan pinggulnya untuk mengocok penis Iman.
Di arah lain, Eva sedang didoggie oleh Rahman. Ardi tidak diam saja, ia masih membiarkan penisnya disepong oleh Eva. Depan belakang diberi penis, terlihat Eva juga sudah cukup profesional. Sigit yang tadi minum bergabung dengan Maman dan Haryono untuk menikmati Lina, ada yang mengentotnya, ada yang disepongnya, dan ada yang menyedoti susunya. Sama halnya keadaan Putri, ia juga melayani tiga pria sekaligus, Asep, Agus dan Rudi. Semua mendapat jatah bergiliran, dari melumat bibirnya, menyedoti susunya, menusukkan penis ke vaginanya, dan adegan-adegan lain yang bergaya threesome.
Sepongan saya mungkin sudah membuat Roni sedikit bosan sehingga ia langsung mendorong saya jatuh, dan lalu ia melumat susu saya dengan kasar. Tubuh saya ditindihnya hingga saya sulit bernafas. Dari bibir hingga ke dada, ia menciumi seluruh tubuh saya. Sambil menyedot susu saya, Roni memainkan jarinya di arah vagina saya. Mungkin ia sedikit marah karena saya tidak menjawab kemauannya untuk menggunakan gaya bondage.
Puting susu saya terasa perih, Roni seperti tanpa perasaan menyedot dan menggigitnya dengan kesetanan. Vagina saya pun terus dikocok dengan jarinya secara paksa. Saya hanya bisa bertahan mengikuti kemauannya. Sial pikirku kalau ketemu pria hyper seperti ini. Dulu di markas bang Sobirin juga sering ketemu yang seperti ini, namun tidak begitu kasar. Roni lebih kasar dari pada pelanggan dulu, susu dan pantat saya pun ditampar hingga kemerahan. Tak mau berlama-lama, Roni pun bangkit mengambil tas nya dan mengeluarkan seutas tali.
“Sorry tante…”, ia tersenyum pada saya, saya hanya berbaring lemas di lantai.
Kemudian Roni mengikat tangan saya kebelakang sambil berbisik,
“Tante pura-pura berontak saja…”.
Gila, pikirku, nih anak sudah keracunan video porno kayaknya. Agar ia puas, saya pun pura-pura berontak, saya menendangkan kaki saya agar Roni menjauh. “PLLAAAKKKK…..”, Roni menampar pipi saya dengan keras hingga saya pun meneteskan air mata. Sekujur tubuh saya diikat dengan tali hingga saya tidak bisa bergerak, hanya kaki saya saja yang dibiarkan mengangkang.
Bukan hanya itu, Roni pun melakban mulut saya dan kemudian ia pun mengeluarkan sex toy dari tasnya, sebuah benda panjang yang berbentuk penis besar. Saya melihatnya menekan tombol yang ada di gagangnya, kemudian penis itu bergerak dan berputar seperti bor dan menggeliat seperti ulat. Benda itu terbuat seperti dari bahan karet, Roni pun kemudian berusaha menusukkannya ke lubang vagina saya.
“Hmmmmm….”, saya tidak bisa bersuara, mulut saya tertutup lakban, benda besar itu terasa tidak muat di vaginsaya. Sakit sekali hingga saya kembali menangis. Benda itu terus mengobok-ngobok dalam vagina saya, berputar-putar seperti bergejolak. Roni tak mau menariknya untuk waktu yang cukup lama, sambil menusukkan benda itu, ia terus menyedot susu saya.
Saya tidak jelas memandang sekitar, mata saya penuh dengan air. Saya rasa yang lain masih asyik bercinta. Mungkin saja mereka sudah berganti posisi atau bahkan sudah berganti pasangan. Hanya saya saja yang diperlakukan begini. Puting susu saya ditarik Roni hingga mancung ke depan. Saya juga merasakan telah mencapai orgasme, air kenikmatan saya sudah muncrat keluar, membasahi sex toy dan tangan Roni, namun dia tetap saja tak mau menarik keluar sex toy nya itu. Lelah sekali diperlalukan seperti ini, mungkin dinding vagina saya pun sudah koyak, karena benda yang besar itu tanpa henti berputar, terasa panas sekali.
Puas menyodokkan penis mainan itu, Roni akhirnya menarik keluar dari dalam vagina saya. Sedikit tenang karena tidak dipaksa seperti tadi lagi, karena sekarang saya lihat Roni akan memasukkan penisnya yang tidak begitu besar ke dalam vagina saya. Untuk mendapatkan sensasi, Roni menampar pipi saya dan menjambak rambut saya hingga saya hanya bisa merintih tanpa bisa berteriak karena mulut saya masih tertutup lakban.
Saya terus digenjot oleh Roni, badan saya terasa sakit karena ikatan tali di tubuh saya sangat erat sekali, semoga saja ini cepat berlalu. Tiba-tiba ada seseorang mendekati kami, saya coba lihat dengan jelas, ternyata itu adalah Iman, ia langsung menarik lakban yang menutupi mulut saya dengan kasar,
“Mama Cindy… Sepongin dong…”, ia lalu mendekatkan penisnya ke mulut saya.
‘Hoek’ mual sekali bagi saya karena penisnya masih basah, karena barusan saja Iman menyetubuhi anak saya Cindy, sehingga bekas-bekas cairan sperma masih melekat di penisnya. Mau tak mau harus saya kulum penisnya itu. Badan saya bergoncang kuat, atas bawah mendapatkan pekerjaannya masing-masing.
Yang lain entah bagaimana, baik Cindy, Eva, Lina maupun Putri. Yang jelas, ini adalah pesta seks yang cukup melelahkan. Saya lihat beberapa pria sudah istirahat, mereka duduk di pojokan sambil merokok. Gadis lain sudah terkapar tak bertenaga melayani beberapa pria, hanya saya yang masih bermain cinta.
“Bos, Roni minta ijin semprot…”, pinta Roni yang sudah mau berejakulasi setelah setengah jam meenggenjot vagina saya.
Iman mencabut penisnya dari mulut saya, lalu Roni menggantikan posisinya, Roni mau saya mengulum penisnya hingga cairan spermanya keluar dan memenuhi mulut saya. Mulut saya sudah belepotan dengan sisa sperma Roni yang sebagian sudah tertelan, Roni pun menjauh dan berkumpul dengan yang lain untuk menghabiskan bir dan masakan yang saya buat.
Sekarang giliran bos Iman yang menggenjot vagina saya, dengan tubuh masih terikat, saya terus digoyang. Tak berhenti, kini Rahman datang bersama Ardi untuk bergantian meminta saya sepong. Kelihatannya mereka sudah bosan dengan Cindy, Eva, Putri dan Lina. Dengan keadaan terkapar terikat, tubuh saya bergoyang mengikuti irama genjotan Iman, dan mulut saya terus disumpal penisnya Rahman dan Ardi.
Tak lama dari itu, saya lihat pria yang tadinya beistirahat sudah mulai segar kembali dan antri dibelakang Rahman dan Ardi. Mereka mengerumuni saya, menjamah saya, dan meremas-remas buah dada saya. Hanya Roni yang masih beristirahat sambil merokok, tapi penisnya tidak istirahat, ia masih meminta Putri untuk memainkan penisnya. Sedangkan Eva, Cindy dan Lina menyantap makanan dan minuman yang tersisa.
Seperti halnya Roni, Iman pun menarik penisnya dari vagina saya dan berejakulasi di mulut saya. Kini giliran Rahman yang mengambil posisi Iman. Saya sudah capek, vagina saya pun sudah perih terasa. Tapi mereka seolah tidak mengerti, mungkin karena saya barang baru bagi mereka. Saya sudah tak mampu melihat sekitar, hanya merasakan genjotan para lelaki itu, dan muntah-muntah karena menelan peju mereka.
Setelah Rahman, giliran Ardi, seterusnya entah siapa lagi, saya sudah tak sadarkan diri karena kecapekan, yang jelas semuanya mendapatkan giliran. Ketika saya terbangun, ternyata pesta mereka belum usai, Cindy dikerumuni Agus, Ardi, dan Roni, sedangkan Eva menyepong Rahman sambil didoggie oleh Asep. Gadis lainnya si Putri dan Lina sedang dinikmati pria lainnya, hanya bos Iman yang tidak kelihatan. Mungkin mereka selalu beristirahat sejenak sehingga stamina mereka begitu kuat dari malam hingga pagi hari.
Saya tidak mau memperdulikan mereka lagi, dan berpura-pura tertidur agar tidak perlu capek lagi melayani mereka. Akhirnya siang, saya dibangunkan Cindy dan melepaskan ikatan saya, saya pun segera bangkit untuk mandi. Mereka ternyata sudah mandi terlebih dahulu, hanya beberapa orang saja yang masih tiduran di lantai.
“Habis mandi, siapin makanan ya ma… Bos Iman pergi jemput tamu…”, pesan Cindy sebelum saya masuk ke kamar mandi.
“Huah… Capeknya…”, desahku di dalam kamar mandi sambil diguyur air hangat dari shower, cukup segar merasakan air yang membasahi tubuh saya. Setelah ini saya harus memasak, tidak tahu siapa yang dijemput oleh Iman.
Jam sudah menunjukkan pukul 16:00, Iman yang ditemani Rahman belum kunjung pulang. Saya dan teman yang lain cukup khawatir, takut makanan yang saya siapkan tidak segar lagi. Roni dan beberapa pria berjaga dibawah, sedangkan para gadis masih santai bersama saya di ruang kumpul, karena tempat usaha kami terhitung baru, masih jarang konsumen yang singgah ke sini.
“Cin, nanti makanannya dipanasin saja ya, mama capek banget nih”, saya meminta Cindy untuk membantu saya.
“Oke ma, mama istirahat aja…”, jawab Cindy.
Saya pun masuk kamar dan langsung menghempaskan tubuh saya ke ranjang. Capeknya hari ini, saya pasti akan nyenyak tidur di sore ini. Bagaimanapun pesta tadi malam sangat membekas dipikiran saya, karena saya belum pernah mengalami pesta seks ramai-ramai begitu, apalagi bersama dengan Cindy anak saya yang juga ikut berpesta.
Updated: April 16, 2018 — 1:00 pm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

kumpulan cerita sex dan foto bugil © 2018 Frontier Theme